Perjalanan Hijrahku

Assalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh....

Pernah suatu hari, seorang customer bertanya kepadaku perihal pakaian yang mulai ku senangi saat ini.
Pakaian yang mungkin dimata mereka terlihat aneh, kuno, ribet, dan bla…bla…bla….

Berikut percakapan ku dengan si Customer.
C          : Maaf mba, kenapa roknya begitu panjang, apakah harus menggunakan sepanjang itu.
A          : Tidak harus mas, memangnya kenapa ya ?
C          : apakah dengan rok sepanjangn itu mba tidak takut kotor. Roknya dipakai sholatkan ?
         : iya. Kotor bukan berarti najis mas ?
C          : tapi kalau seandainya, saya tidak sengaja menginjak rok mba dan di sepatu saya ada tahi kucing gimana ?
A          : kalau saya sadar bahwa dirok saya ada najis atau kotoran, maka saya wajib membersihkannya. Tapi kalau tidak tahu tidak apa. Toh kotor bukan berarti najis.
         : memangnya harus ya menggunakan rok sepanjang itu, sampai menyapu lantai. Bukankah mba sudah pake kaos kaki dan saya rasa sudah menutupi aurat.
A          : saat itu saya hanya diam mengedar ocehannya yang mendebat rok panjang saya.

Sampai akhirnya seorang teman membantu menjawab beruntun pertanyaan mas tersebut.

T          : seorang wanita itu harus memanjangakan rok atau bajunya sejengkal dari mata kaki.
C          : kalau hal yang begitu saya paham. Hanya saja kitakan pernah sekolah harusnya bisa memahami hal ini donk. Dan disekolah kita juga diajarkan bagaimana berpakaian yang rapi dan bla…bla…blaaaaaa.

Entahlah, aku sudah tidak tertarik lagi dengan perdebatan tersebut dan hanya diam mendengar ocehannya yang panjang lebar dan nggak jelas. Dan mas-nya berlalu begitu saja melihat kami yang hanya diam dan tersenyum mendengarkan dia ngoceh.

Oke aku paham, mungkin pakaian yang aku kenakan membuat mereka yang melihat terkesan ribet. Apalagi baju yang sampai menyapu lantai. 

Pertanyaan tersebut menjadi pertanyaan balik untukku. Apa tujuan dia bertanya demikian ??? nggak cuma dia yang pernah mengajukan pertanyaan tersebut. Dengan banyaknya yang mengajukan pertanyaan serupa membuatku mencari jawaban yang tepat sehingga aku paham akan apa yang sudah menjadi dari bagianku.

Sob, awalnya aku agak kesal mendengar ocehan customer tersebut. Kenapa aku yang baru belajar untuk hijrah yang juga belum memahami banyak hal tentang aurat dan sejenisnya. Justru didebat dan dikomentari.
Jujur, aku yang baru belajar berhijrah belum memahami hal-hal mungkin sepele, namun menjadi bumerang untuk diri sendiri. Dan pertanyaan demi pertanyaan tersebut membuatku jadi ingin belajar. Dan aku pun menemukan jawaban yang bisa aku pahami, yaitu sebuah video youtube Ustad Felix Siauw,

Yang menjadi aurat perempuan itu adalah Wajah dan Telapak Tangan. Sebagaimana sabda Rasulullah :

"Bahwa Asma Binti Abu Bakar masuk ke rumah Rasul dengan mengenakan pakaian yang tipis, maka Rasulullah berkata : "Wahai Asma, sesungguhnya wanita telah haid (baligh) tidak diperkenankan untuk dilihat daripadanya kecuali ini dan ini, dengan mengisyaratkan wajah dan telapak tangan." (HR Abu Daud).

Dalam Al-Quran dan Hadist sudah dijelas perintah untuk menutup aurat bagi perempuan muslimah. So... bagian mana lagi yang tidak kita pedulikan perihal aurat. Menutup aurat wajib hukumnya bagi perempuan yang sudah haid. Dalam Al-Quran Allah berfirman ;

"Katakanlah kepada wanita yang beriman : "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepda suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaaya kamu beruntung." (Qs. An-Nur : 31)

" Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin : "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (Qs. Al-Ahzab : 59)


Untuk menjawab pertanyaan yang mereka lontarkan perihal panjangnya bajuku, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menerangkan mengenai bagian bawah pakaian, Ummu Salah radhiyallahu 'anha berkata kepada Rasulullah, "Lalu bagaimana dengan pakaian seorang wanita Rasulullah ?" Beliau menjawab, "Hendaklah ia mengulurkannya satu jengkal" Ummu Salamah berkata, "Jika demikian masih tersingkap" satu hasta saja dan jangan lebih dari itu," jawab beliau. (HR. At- Tirmidzi).

Dari seorang ibu Putra Ibrahim bin Abdurrahman bin 'Auf bahwa ia pernah bertanya kepada Ummu Salamah istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, " sesungguhnya aku adalah seorang perempuan yang biasa memanjangkan (ukuran) pakaianku dan (kadang-kadang) aku berjalan ditempat kotor?" maka jawab Ummu Salamah, bahwa Nabi pernah bersabda, "Tanah selanjutnya menjadi pembersihnya." (HR. Ibnu Majah Imam Malik dan Tirmidzi).

Sob, sekilas pelajaranku tentang aurat hari ini. Semoga aku bisa menjawab dengan mantap apa-apa tentang pertanyaan yang sama yang mereka lontarkan.

Terimakasih untuk keluarga, teman dan mereka yang pernah bertanya perihal baju / rok panjangku. Semoga aku bisa lebih istiqomah dalam menutup aurat. Dan tidak menjadikan baju / rok panjang tersebut sebagai perhiasan agar terlihat anggun dengan tujuan tabaruj.


Wassalamu'alaikum Warahmatullah Wabarakatuh


Adelia

Komentar