HIDUP TANPA TELEVISI

Dalam hidup, kadang kita harus mengambil sebuah pilihan yang tidak bisa. Pilihan yang menimbulkan pertanyaan dibenak orang.

Setiap Kali teman atau kerabat datang berkunjung, tidak sedikit yang terheran-heran dan kebingungan melihat tidal ada televisi dirumah saya. Biasanya saya akan menanggapi pertanyaan penuh keheranan itu dengan senyuman saja. Bukan tidak may menjawab, tapi bingung karena pertanyaan itu membutuhkan penjelasan yang tidak pendek.

Saya sudah tidak menonton televisi lebih dari 10 tahun. Sekali-sekali memang masih menonton, misalnya saat berkunjung ke rumah saudara dan teman. Atau ketik berada ditempat-tempat yang menyediakan television, seperti ruang tunggu di sebuah rumah sakit.

Sejak awal berumah tangga, saya sudah bertekad untuk tidak membeli televisi sama  sekali, walau pun harganya kian murah. Tekad ini tidak berubah saat anak-anak hadir dalam rumah tangga kami. Saya malah semakin yakin dan bertekad untuk tidal memiliki televisi. Menurut beberapa artikel yang saya baca, saat ini pubertas ini melanda anak-anak. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya acara televisi yang sebenarnya untuk usia dewasa, tapi dikonsumsi anak-anak. Iklan-iklan yang tidak pantas dilihat anak pun bersliweran di layar kaca.

Anak angkat saya pernah mendapatkan surat cinta dari teman sepermainannya. Padahal saat itu dia masih kelas 2 SD atau berusia sekitar 7-8 tahun. Bahkan seorang anak usia 8 tahun sudah mendapatkan haid pertama atau sudah bermimpi basah. Jauh sekali bedanya dengan sama  saya dulu ketika hanya ada satu saluran televisi. Saat itu, saya dan teman-teman saya mendapatkan haid ketika berusia 10 tahun atau ketika sudah duduk dibangku SMP.

Memang, kita sebagai orang tua bisa mengontrol acara mana yang boleh dan tidak boleh ditonton oleh anak kita. Tapi menurut saya itu terlalu repot. Iklan-iklan pun banyak yang tidak sama  untuk anak-anak, bukan ? Daripada repot mengatur acara televisi, lebih baik saya membeli komputer atau laptop untuk memutar VCD atau DVD hiburan yang mendidik. Tinggal nyalakan, tonton, tidak perlu khawatir anak akan menonton iklan yang tidak pantas untuk ditonton.

Hasilnya, anak saya berkembang sesuai usianya. Tidak dilanda pubertas ini dan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk membaca buku dan bermain di halaman rumah.

Kata Hari by A.Yahya Hastusi,
Maj Sekar edisi 97/12

Nb: Keren,,, dan aku pernah melakukannya lima tahun, ketika jadi anak kos-kosan. Kerasa buanget bedanya, aku jadi punya banyak waktu baca novel disela-sela tugas kuliah...

Komentar